8 April 2015 - 10:13
Rahbar Tuntut Penghentian Agresi Militer ke Yaman

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyatakan bahwa penghentian agresi militer ke Yaman dan campur tangan asing merupakan satu-satunya solusi untuk krisis yang mengganggu negara Semenanjung Arab itu.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar menilai krisis di Yaman sebagai salah satu masalah di dunia Islam dan menekankan, "Sikap Republik Islam berkaitan dengan semua negara termasuk Yaman adalah menentang intervensi asing. Oleh karena itu, menurut kami, solusi untuk krisis di Yaman juga penghentian intervensi asing dan serangan terhadap rakyat negara itu."

Hal itu dikemukakan Rahbar dalam pertemuan dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, di ibukota Iran, Tehran, Selasa (7/4).

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menegaskan bahwa "Rakyat Yaman yang harus memutuskan masa depan negara mereka," dan menambahkan, "Sekarang, Amerika Serikat dan Zionis senang dengan perselisihan di antara negara-negara Muslim dan bahwa solusi untuk masalah ini adalah kerjasama antarnegara-negara Islam serta pengambilan langkah-langkah praktis dan konstruktif."

Rahbar juga menekankan, negara-negara regional tidak akan diuntungkan dari mempercayai Barat dan AS, dan bahwa setiap orang dapat dengan jelas melihat dampak dari kebijakan regional Barat yang merugikan kawasan dan juga Islam.

Di bagian lain, Ayatullah Khamenei menyinggung transformasi di Irak dan Suriah serta kekerasan kelompok teroris di kedua negara itu, dan mengatakan, mereka yang tidak bisa melihat peran musuh dalam krisis di negara-negara itu, sesungguhnya telah menipu diri mereka sendiri.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengatakan Amerika Serikat dan rezim Israel adalah pihak yang paling puas dengan perkembangan di kawasan dan tidak ingin mengakhiri momok kelompok teroris Takfiri ISIS.

"Siapa yang mendukung gelombang ini secara finansial dan logistik?" tanya Rahbar, menyinggung kebrutalan kelompok Takfiri ISIS dan kelompok-kelompok teroris lain di kawasan.

Rahbar lebih lanjut menekankan pentingnya perluasan hubungan antara Iran dan Turki, dan menambahkan, "Kekuatan setiap negara Muslim, pasti, adalah kekuatan dunia Islam dan kebijakan Republik Islam Iran adalah bahwa negara-negara Islam harus saling mengokohkan."

 

Ayatullah Khamenei kemudian menyinggung fenomena "kebangkitan Islam" dan dahaga tak terpuaskan bangsa-bangsa Islam sebagai alasan utama di balik peningkatan sensitivitas pihak musuh, dan mengatakan "Dalam beberapa waktu terakhir, musuh-musuh Islam sedang meluncurkan serangan balasan mereka melawan kebangkitan ini dan fakta yang patut disayangkan adalah bahwa sejumlah pemerintah Muslim mengkhianati (yang lain) dan menggunakan uang dan fasilitas mereka untuk melayani musuh."

 

Rahbar Khamenei lebih lanjut menyinggung situasi terkini di Irak dan menekankan bantuan Iran kepada pemerintah Irak dalam pertempuran melawan teroris, seraya mengatakan, "Iran tidak memiliki kehadiran militer di Irak, namun kedua negara, Iran dan Irak, memiliki hubungan historis, mengakar dan sangat dekat."

Di lain pihak, Presiden Turki, pada bagiannya, menekankan pentingnya dunia Islam untuk berpijak di atas kakinya dalam menyelesaikan permasalahan yang ada, dan mengatakan "Ada banyak masalah di wilayah ini yang harus kita selesaikan bersama dan tidak harus menunggu Barat untuk menyelesaikan masalah ini."

Erdogan juga mengecam kejahatan dan brutalitas yang dilakukan kelompok teroris ISIS, dan menegaskan bahwa pihaknya tidak mengakui kelompok Takfiri ISIS itu sebagai Muslim.

Memimpin delegasi tingkat tinggi, Erdogan tiba di Tehran dalam kunjungan resmi sehari dan berunding dengan para pejabat Republik Islam.

Sebelum bertemu Rahbar, Presiden Turki juga telah berunding dengan mitra tuan rumahnya, Hassan Rouhani di Kompleks Saadadabad, Tehran. (IRIB)